Musibah Bukan Sebuah Kebetulan


Semua yang terjadi di muka bumi ini tiada satupun yang kebetulan. Tiada satupun yang di luar rencana Tuhan. Manusia yang menyebut bahwa kecelakaan, musibah dan berbagai hal sebagai kejadian yang kebetulan adalah manusia yang tidak bertuhan.
Firman Allah dalam Surah al Hadid : 77 mengatakan, “Musibah yang terjadi di muka bumi ini dan juga yang menimpa dirimu, itu semua sudah dituliskan dalam sebuah kitab di Lauhul Mahfudz. Dan itu sungguh-sungguh mudah bagi Allah.”


Semua kejadian, semua peristiwa adalah qudrah dan iradah Allah SWT. Orang –orang beriman akan selalu membaca kejadian-kejadian dan peristiwa sebagai sebuah pertanda. Ia bisa berarti teguran atau ujian, bisa azab, bisa pula laknat. Bagi orang-orang yang melakukan maksiat, mungkin ini adalah sebuah teguran dan peringatan. Dan bisa menjadi azab bagi orang-orang yang kufur. Bagi mereka, orang-orang kufur, kematian dan segala kejadian buruk yang menimpa mereka adalah azab. Tapi bagi orang yang beriman, semua peristiwa musibah adalah ujian. Tarkiyatul iman. Untuk meningkatkan iman mereka. Untuk mengangkat derajat mereka menjadi lebih tinggi lagi.

Untuk keluar dari berbagai masalah dan musibah, kemudian meraih keberkahan dari Allah, tidak ada jalan lain. Kita harus kembali kepada Allah. Jika kita rindu pada ketenangan, kita harus mendekat kepada Yang Maha Tenang. Jika rindu kedamaian, kita harus mendekat kepada Yang Maha Damai. Dan jika kita rindu keadilan negeri ini, seharusnya kita mendekatkan diri pula kepada Yang Maha Adil.

Seandainya seluruh penduduk negeri ini beriman, niscaya Allah akan menurunkan keberkahan dari langit dan dari dalam bumi. Tapi jika mereka kufur atas nikmat-nikmat Allah, maka mereka akan mendapatkan musibah, bala dan bencana.

Sungguh, bala dan bencana, musibah dan kejadian buruk yang menimpa kita tidak akan berhenti sampai manusia benar-benar bertakwa. Jangan mengharapkan keberkahan dan nikmat jika selama ini kita menggunakan nikmat-nikmat Allah untuk tenggelam dalam kemaksiatan dan kezaliman.

Kezaliman kian merajalela. Sogok menyogok dan korupsi sudah membudaya dan melembaga. Negeri ini sudah koma. Untuk bangkit harus kembali pada Allah SWT.

Perbaiki hubungan dengan hablum minallah, dengan sendirinya itu akan memperbaiki hablum minannas kita. Bukan tanpa maksud jika shalat itu dimulai dengan Takbir dan diakhiri dengan salam. Dimulai dengan kekuatan akidah dan diakhiri dengan akhlak yang mulia, menyebarkan keselamatan.

Tapi apa yang terjadi kini. Hampir-hampir sudah tidak ada lagi air mata yang bisa diteteskan. Semua kondisi telah mencekam.

Mari kita semua meningkatkan takwa. Kembali mengingat dan mendekatkan diri kepada Allah. Kembali berdzikir dan taat kepada allah. Dengan selalu mengingat Allah, mustahil maksiat akan terjadi. Orang-orang yang bertakwa tidak mungkin korupsi. Orang-orang yang berdzikir tidak mungkin berbuat maksiat. Karena ia sangat cinta kepada Allah. Karena ia akan selalu berhati-hati kepada Allah.

Ingat, maksiat adalah magnet bagi bala. Maksiat selalu mengundang petaka. Dan bala akan terus menghebat kecuali kita kembali dan meminta perlindungan hanya pada Allah semata.

Lepas dan tinggalkan paham-paham sekuler yang selama ini mengepung kita. Semua yang terjadi sama sekali bukan kebetulan semata. Kita lahir bukan kebetulan. Kita mati juga bukan kebetulan. Musibah juga bukan kebetulan. Musibah selalu memiliki tiga unsur di dalamnya: azab, peringatan, ujian.

Menjadi orang-orang yang beriman sungguh begitu nikmat dan mengagumkan. Dicurahkan nikmat ia bersyukur, dan itu baik untuknya. Diberi musibah ia bersabar, dan itu juga baik untuknya. Orang-orang beriman tak pernah dirundung kesusahan, karena tak ada kosakata rugi untuk mereka.

Sedangkan kemaksiatan akan selalu mengundang bencana. Alam tak lagi bersahabat dengan kita. Sebab alam selalu berdzikir kepada Allah. “Sungguh, bertasbih dan berdzikir semua apa yang ada di langit dan bumi ini. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Manusia yang syukur dan berdzikir telah membuat alam murka. Dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman, “Sesungguhnya, makhluk-Ku bumi ingin sekali menelan manusia karena kemaksiatan yang mereka lakukan. Tapi semua itu tertahan karena masih ada hamba-hamba Allah yang berdzikir pada pagi dan malam.”

Majelis dzikir bukanlah termenung di dalam masjid atau mushalla. Jangan terjebak oleh ritualitas, sebab di seluruh permukaan bumi ini adalah majelis dzikir. Orang-orang yang mendirikan shalat dengan khusyu’, dia insya Allah berakhlak mulia. Jika ada orang yang shalat namun akhlaknya busuk, pasti ia belum benar-benar mendirikan shalat dengan khusyu’.

Kini banyak orang yang ibadahnya hampa, Islamnya tidak nyaman, alergi atas syariat Islam, padahal ia seorang muslim dan setiap hari beribadah. Itu semua karena ada enam hal yang menyelimuti hati dan jiwanya dengan begitu kuat. Ia terkepung cinta pada dunia. Ia telah dilumpuhkan oleh godaan syetan. Ia selalu berperangai buruk. Mencintai kebodohan dan tak berdaya pada dosa-dosa yang terus menerus ia lakukan.

Saudaraku, mari pelan-pelan kita singkirkan halangan-halangan yang membatasi kita dengan rahmat Allah itu. Dan dzikir adalah permulaan yang mulia. Dzikir ibarat sebuah palu godam yang mulai kita ayunkan untuk memukul hati yang sudah sekeras batu.

Ada tiga hal yang bisa kita lakukan untuk meraih kemenangan dan keberkahan. Pertama, perbanyak dzikir, tahajjud, memakmurkan masjid. Kedua, lakukan dan giatkan dakwah menyebarkan kebaikan pada manusia. Ketiga, jangan pernah berhenti belajar untuk menjadi yang lebih baik dari sekarang. Semoga Allah senantiasa memberikan pertolongan.

0 Response to "Musibah Bukan Sebuah Kebetulan"

Post a Comment